KLASIFIKASI DIABETES

20 Aug 2016

KLASIFIKASI DIABETES

 

KLASIFIKASI Klasifikasi Diabetes Melitus berdasarkan modifikasi PERKENI 2006 adalah:

Diabetes Mellitus tipe I Diabetes Mellitus tipe I atau yang disebut Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe I adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas.

Diabetes Mellitus Tipe II Diabetes Mellitus tipe II atau yang disebut dengan non insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM). Terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin dan resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin (adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandaidengan meningkatnya kadar insulin dalam darah DM tipe lain : Diabetes Melitus pada masa kehamilan (gestasional)

SEJARAH Penyakit Diabetes Melitus pertama kali diuraikan oleh Aretaeus dari Coppadocia. Definisi Diabetes Melitus adalah suatu penyakit akibat adanya gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi dan ditemukannya glukosa dalam urin, hal ini terjadi oleh karena adanya gangguan produksi insulin oleh pankreas berupa kurang atau tidak adanya produksi insulin. (Ilyas, E. I, 1998). Diabetes Melitus (dari bahasa yunani, diabainein yang artinya pancuran air, dan bahasa latin latin mellitus yang berarti rasa manis) yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus menerus dan bervariasi, terutama setelah makan (Priana, 2002 : 33). Dan menurut Mansdjoer, dkk (2001:580) Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai kelainan metabolisme kronik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis.

PATOFISIOLOGI Karbohidrat yang dikonsumsi dicerna oleh tubuh menjadi monosakarida dan diabsorpsi, terutama dalam duodenum dan jejunum proksimal (schteingart,1995 : 1109) Karbohidrat utama dalam makanan (kanji,laktosa dan sakarosa) dicerna untuk menghasilkan monosakarida (glukosa,fruktosa, dan galaktosa) masuk ke dalam aliran darah dan berpindah ke jaringan tempat zat tersebut dimetabolisme. Semua jenis sel manusia menggunakan glukosa untuk memproleh energi. Setelah dibawa ke sel glukosa mengalami fosforilasi oleh suatu heksokinase menjadi glukosa-6-fosfat. Glukosa-6-fosfat kemudian dapat masuk ke sejumlah jalur metabolik. Tiga jalur yang biasa terdapat pada semua jenis sel adalah glikolisis, jalur pentose fosfat, sintesis glikogen (Marks, 2000:381)

ETIOLOGI Kasus Diabetes Melitus terbanyak dijumpai adalah Diabetes Melitus tipe 2, yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin. Kasus Diabetes Melitus tipe 1 yang mempunyai latar belakang kelainan berupa kurang insulin secara absolute akibat proses autoimun tidak begitu banyak di Indonesia ( Waspdji, 2005 : 29) Perjalanan penyakit Diabetes Melitus dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko yaitu : Faktor resiko melekat yang sulit dan mungkin tidak dapat berubah yaitu umur, jenis kelamin, keturunan, status sosial seperti suku dan budaya atau adat istiadat. Faktor resiko perilaku yang bisa dirubah yaitu merokok, mengkonsumsi alkohol, kurang aktifitas fisik, kurang konsumsi serat, konsumsi lemak tinggi dan konsumsi kalori tinggi. Faktor resiko lingkungan yaitu kondisi ekonomi rendah, lingkungan sosial seperti modernisasi, status sosio-ekonomi serta lingkungan fisik. Faktor resiko fisik dan biologi berupa obesitas dan hipertensi, serta faktor resiko biologis berupa hiperglikemia, toleransi glukosa terganggu dan bisiplidemia. (Depkes RI, 2006 : 8-9).

Gejala Klinis Diabetes Melitus

  • Gejala klinis yang dapat ditemukan pada penderita Diabetes diantaranya:
  • Rasa haus yang berlebihan (Polidipsia)
  • Sering kencing terutama malam hari (Poliuria)
  • Banyak makan (Polifagia)
  • Berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas
  • Lemah badan
  • Kesemutan
  • Gatal
  • Mata kabur
  • Disfungsi ereksi pada pria
  • Gatal disektiar daerah kemaluan

KOMPLIKASI Penderita Diabetes Melitus dapat mengalami berbagai komplikasi khususnya bagi mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. (Immanuel , 2003 : 23)

Komplikasi Akut Hipoglikemia Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah dibawah nilai normal. Hipoglikemia pada penderita Diabetes Melitus terjadi karena terapi insulin atau sulfonuria. Faktor yang memudahkan terjadinya hipoglikemia pada pasien Diabetes Melitus adalah pemasukan makanan yang terlambat dan latihan jasmani yang berlebihan. Hiperglikemia Hiperglikemia menjadi : Diabetes Keto Asidosis Pada umumnya sel beta pankreas gagal atau terhambat oleh beberapa keadaan yang menyebabkan sekresi insulin menjadi tidak kuat. Defisiensi insulin menyebabkan peningkatan hormon glukagon dan perubahan rasio ini menimbulkan peningkatan lipolisis di jaringan lemak serta ketogenesis di hati. Lipolisis terjadi karena defisiensi insulin merangsang kegiatan lipase di jaringan lemak dengan akibat bertambahnya pasokan asam lemak bebas ke hati di dalam sel mitokondria di hati terjadi ojksidasi beta yang mengubah asam lemak ini menjadi keton. Ketogenesis ini menghasilkan asam aseto asetat yang bersifat tidak stabil dan akan mengalami dehidrogenasi menjadi asam beta hidroksibutirat dan dekarboksilat spontan menjadi aseton. Non Ketotik Hiperosmolar Pada pasien NKH insulin masih cukup untuk mencegah ketosis, tetapi tidak dapat mempertahankan homeostasis glukosa. Adanya keadaan hiperosmolar dan dehidrasi mengurangi pelepasan asam lemak bebas. Peran hormon lipotik seperti glukagon pada NKH kecil sehingga asam lemak bebas berkurang. Asidosis Laktat (AL) Asidosis Laktat adalah suatu akibat adanya kenaikan kadar asam laktat dalam otot skelet dan jaringan lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya glikolisis anaerob yang mengahasilkan peningkatan asam laktat. Pada AL didapat penurunan PH darah (Immanuel, 2003 : 22). Komplikasi kronik Kompliksi yang berhubungan dengan DM kronik sangat kompleks dan multifaktor. Mekanisme yang tepat bagaimana keadaan defisiensi insulin ini dapat memicu terjadinya gangguan metabolik dan vaskuler serta jaringan yang rentan masih merupakan dugaan yang sangat spekulatif. kronik ini dibagi menjadi : Mikrovaskuler (mikroangiopati) Mikroangiopati merupakan lesi spesifik Diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetic), glomerulus ginjal (nefropati diabetic), dan saraf-saraf perifer ( neuropati diabetic), otot dan kulit. Akibat defisiensi insulin akan terjadi hiperglikemia, yang bila terjadi dalam waktu lama mengakibatkan berkurangnya kadar monositol yang akan mengganggu osmoregulasi sel hingga sel itu rusak. Makrovaskuler Komplikasi makroangiopati lebih berkaitan dengan resistensi insulin hiperinsulinemia, disiplidemia, peningkatan agregasi trombosit dan gangguan fibrinilisis. Resistensi insulin ternyata berkaitan sejumlah gangguan metabolisme yang semuanya akan meningkatkan resiko penyakit jantung koroner (PJK). Gambaran makroangiopati berupa arterokierosis. Pada akhirnya makroagiopati diabetik akan mengakibatkan penyumbatan vaskuler.

PEMERIKSAAN LAB Jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium DM adalah urin dan darah. Mekipun dengan menggunakan urin dapat dilakukan, namun hasil yang didapat kurang efektif. Darah vena adalah spesimen pilihan yang tepat dianjurkan untuk pemeriksaan gula darah. Apabila sampel yang digunakan adalah darah vena maka yang diperiksa adalah plasma atau serum, sedangkan bila yang digunakan darah kapiler maka yang diperiksa adalah darah utuh. Pada pengambilan darah kapiler, insisi yang dilakukan tidak boleh lebih dari 2,5 mm karena dapat mengenai tulang. Pada pengambilan darah kapiler juga tidak boleh memeras jari dan tetesan pertama sebaiknya dibuang. Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium untuk Diabetes Melitus adalah sebagai berikut : Gula darah puasa Pada pemeriksaan ini pasien harus berpuasa 8-10 jam sebelum pemeriksaan dilakukan. Spesimen darah yang digunakan dapat berupa serum atau plasma vena atau juga darah kapiler. Pemeriksaan gula darah puasa dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaringan, memastikan diagnostik atau memantau pengendalian DM. Nilai normal 70-110 mg/dl. Gula darah sewaktu Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien tanpa perlu diperhatikan waktu terakhir pasien pasien. Spesimen darah dapat berupa serum atau plasma yang berasal dari darah vena. Pemeriksaan gula darah sewaktu plasma vena dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaringan dan memastikan diagnosa Diabetes Melitus. Nilai normal <200 mg/dl. Gula darah 2 jam PP (Post Prandial) Pemeriksaan ini sukar di standarisasi, karena makanan yang dimakan baik jenis maupun jumlah yang sukar disamakan dan juga sukar diawasi pasien selama 2 jam untuk tidak makan dan minum lagi, juga selama menunggu pasien perlu duduk, istirahat yang tenang, dan tidak melakukan kegiatan jasmani yang berat serta tidak merokok. Untuk pasien yang sama, pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau DM. Nilai normal <140 mg/dl. Glukosa jam ke-2 TTGO TTGO tidak diperlukan lagi bagi pasien yang menunjukan gejala klinis khas DM dengan kadar gula darah atau glukosa sewaktu yang tinggi melampaui nilai batas sehinggasudah memenuhi kriteria diagnosa DM. (Gandasoebrata, 2007 : 90-92). Nilai normal : Puasa : 70 – 110 mg/dl ½ jam : 110 – 170 mg/dl 1 jam : 120 – 170 mg/dl 1½ jam : 100 – 140 mg/dl 2 jam : 70 – 120 mg/dl Pemeriksaan HbA1c HbA1c atau A1c merupakan senyawa yang terbentuk dari ikatan antar glukosa dan hemoglobin (glycohemoglobin). Jumlah HbA1c yang terbentuk, tergantung pada kadar gula darah. Ikatan A1c stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan usai sel darah merah), kadar HbA1c mencerminkan kadar gula darah rata-rata 1 sampai 3 bulan. Uji digunakan terutama sebagai alat ukur keefektifan terapi diabetik. Kadar gula darah puasa mencerminkan kadar gula darah saat pertama puasa, sedangkn glikohemoglobin atau HbA1c merupakan indikator yang lebih baik untuk pengendalian Diabetes Melitus. Nilai normal HbA1c 4-6%, Peningkatan kadar HbA1c > 8 % mengindikasi hemoglobin A (HbA) terdiri dari 91 sampai 95 % dari jumlah hemoglobin total. Molekul glukosa berikatan dengan HbA yang merupakan bagian dari hemoglobin A. Pembentukan HbA1c terjadi dengan lambat yaitu 120 hari yang merupakan rentang hidup eritrosit, HbA1c terdiri atas tiga molekul hemoglobin HbA1c, HbA1b dan HbA1c. Sebesar 70 % HbA1c dalam bentuk 70 % terglikosilasi pada jumlah gula darah yang tersedia. Jika kadar gula darah meningkat selama waktu yang lama, sel darah merah akan tersaturasi dengan glukosa dan menghasilkan glikohemoglobin. Menurut Widman (1992:470), bila hemoglobin bercampur dengan larutan glukosa dengan kadar yang tinggi, rantai beta hemoglobin mengikat glukosa secara reversible. Pada orang normal 3 sampai 6 persen hemoglobin merupakan hemoglobin glikosilat yang dinamakan kadar HbA1c. Pada hiperglikemia kronik kadar HbA1c dapat meningkat 18-20 % . glikolisasi tidak mempengaruhi kapasitas hemoglobin untuk mengikat dan melepaskan oksigen, tetapi kadar HbA1c yang tinggi mencerminkan adanya diabetes yang tidak terkontrol selama 3-5 minggu sebelumnya. Setelah keadaan normoglikemia dicapai, kadar HbA1c menjadi normal kembali dalam waktu kira-kira 3 minggu. Berdasarkan nilai normal kadar HbA1c pengendalian Diabetes Melitus dapt dikelompokan menjadi 3 kriteria yaitu : DM terkontrol baik / kriteria baik : <6,5% DM cukup terkontrol / kriteria sedang :6,5 % - 8,0 % DM tidak terkontrol / kriteria buruk : > 8,0 % (Yullizar D, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium untuk Penyakit Diabetes Melitus ; 2005) Pemeriksaan gula darah hanya mencerminkan kadar gula darah pada saat diabetes diperiksa, tetapi tidak menggambarkan pengendalian diabetes jangka panjang (± 3 bulan). Meski demikian, pemeriksaan gula darah tetap diperlukan dalam pengelolaan diabetes, terutama untuk mengatasi permasalahan yang mungkin timbul akibat perubahan kadar gula darah yang timbul secara mendadak. Jadi, pemeriksaan HbA1c tidak dapat menggantikan maupun digantikan oleh pemeriksaan gula darah, tetapi pemeriksaan ini saling menunjang untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai kualitas pengendalian diabetes seseorang.

UPAYA PENCEGAHAN Adapun upaya-upaya pencegahan terhadap DM menurut PERKENI (1998) ada tiga tahap, yakni : Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan salah satu upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang termasuk kelompok resiko tinggi, yakni mereka yang belum menderita, tetapi berpotensi untuk menderita Diabetes Melitus dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar gula darahnya. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder merupakan upaya untuk mencegah atau menghambat terjadinya penyakit menahun, pada orang yang telah didiagnosa menderita Diabetes Melitus, dengan melakukan pemeriksaan dan evaluasi laboratorium secara continue atau terus menerus dan teratur. Pencegahan tersier Jika kemudian penyakit menahun DM ternyata terjadi juga, maka pengelola harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut, dan merehabilitas pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap, dengan cara pengendalian terhadap kadar gula darah, melalui olahraga dan diet, bukan saja untuk mencegah kestabilan kadar gula darah, tetapi juga untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Cara Mengobati Penyakit Diabetes:

Penyakit diabetes akan mudah dihilangkan jika belum terlalu parah, namun akan lebih sulit jika dibiarkan, penyakit diabetes sebaiknya di obati dengan paket pengobatan khusus untuk diabetes (UNDIABETS dan PIPECA) dari kami De Nature. Terbuat dari bahan berbal, sehingga aman dikonsumsi tanpa menimbulkan efek Samping. Segera obati penyakit diabetes anda, dengan izin alloh mudah-mudahan dapat terobati. Amin. Untuk pemesanan obat herbal diabetes bisa melakukan kontak.

 
Pengobatan Penyakit Diabetes Secara Alami, Cepat dan Tanpa Efek Samping
UNDIABETS+PIPECA De Nature Indonesia”
 
obat diabetes denature
 

1 PAKET RP 295.000,-  

OBAT DIABETES HERBAL
  • Undiabets dan Pipeca dari deNature Indonesia diformulasikan khusus berdasarkan hasil penelitian ilmiah oleh Herbalis yang expert di bidang herbal. Kualitas bagus, cepat dan AMAN, hasil terapinya sangat optimal dan

    • dapat mengobati diabetes
    • dapat mengurangi kolesterol
    • Menormalkan kadar gula darah
    • Kolesterol
    • Melancarkan peredaran darah
    • sangat aman 100% herbal alami tanpa bahan kimia

    Undiabets dan Pipeca Terbukti NYATA dan TANPA EFEK SAMPING. SEMBUH TANPA KE DOKTER.

 

Beli Satuan: 1 Botol Undiabets: Rp 150.000

1 Botol Pipeca: Rp 150.000 (Belum termasuk Biaya Kirim)
Untuk biaya kirim wilayah Jawa 25.000, luar Jawa 45.000, Papua 85.000

Apakah Dijamin 100% sembuh ?

Jawab: Dokter saja tidak bisa menjamin/menggaransi kesembuhan. Karena penyakit itu datangnya dari yang di Atas, dan kesembuhannyapun dari yang di Atas. Selain minum obat, anda juga harus berdoa dan bertaubat jangan melakukan dosa lagi. Yang bisa menjamin kesembuhan hanya Alloh, jika saya berkata dijamin 100% pasti sembuh, berarti saya sudah menjadi orang yang sombong dan melampaui kekuasaan-Nya. Tapi sebagai pertimbangan, pasien kita jumlahnya sudah banyak.

 

cara pemesanan
 

 

Cara Pemesanan Obat:
SMS kan: NAMA ANDA# KOTA ANDA # PESAN UNDIABETS+PIPECA
Kirim Ke 085 643 616 838

089 619 111 183

Pengiriman Obat Via Jasa Pengiriman
jasa pengiriman
 
Privasi (Kerahasiaan) Terjamin / Paket Kemasan Polos Rapih
paketan
 
 
Tunggu Apalagi!
Jangan Tunda Pengobatan Penyakit Anda Sebelum Semakin Parah Sebelum Sulit di Obati, Sebelum Terlambat, Segera Dapatkan Pengobatan Yang Tepat!

 


TAGS PRODUK OBAT HERBAL DENATURE INDONESIA


-

Author

Follow Me